tppinews.com, Tangerang – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang menyebut kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) Rawa Kucing sudah hampir penuh. Mereka menyatakan TPA Rawa Kucing saat ini sudah terisi 80 persen dari kapasitas lahan seluas 35,8 Hektar.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang, Tihar Sopian mengatakan, lahan tersebut sudah hampir penuh. Pihaknya setiap hari melayani pengangkutan sampah ke TPA sebanyak 1.600 ton sampah.

“Harusnya 1.600 ton per hari dipilah masyarakat bisa 500 ton atau 200 ton yang masuk ke TPA, itu dipilah dari sumber industri maupun tempat tinggal,” kata Tihar Senin (22/05).

“Jadi residunya aja yang di bawa ke TPA,” imbuhnya.

Tihar juga mengaku telah menyiapkan 100 armada truk pengangkut sampah setiap harinya.

“Kita tata per zona-zonanya dengan armada pengangkut yang setiap hari beroprasi,” katanya.

Terpisah, Ketua DPRD Kota Tangerang saat diminta tanggapannya soal hal ini mengatakan akan mendorong Pemkot Tangerang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk melakukan program antisipasi. Sehingga TPA tersebut tidak terjadi kelebihan kapasitas.

“Pemerintah Kota Tangerang segera melakukan antisipasi, segera membuat program antisipasi jangan sampai overload. Karena pengelolaan persampahan memang jadi sebuah kebutuhan dan tantangan perkotaan,” ujar Gatot saat dimintai keterangan di Gedung DPRD Kota Tangerang. Senin (22/05).

Gatot mengatakan pengelolaan sampah menjadi tantangan di perkotaan. Seperti Kota Tangerang Selatan yang harus mengirimkan sampah ke wilayah lain, keterbatasan lahan dan kebutuhan lahan yang cukup terbatas.

“Tangsel aja mengekspor ke wilayah lain, memang itu menjadi tantangan. Karena keterbatasan dan kebutuhan lahan yang terbatas,” kata Gatot yang juga Ketua DPC PDIP Kota Tangerang.

Ia mendorong kepada Dinas Lingkungan Hidup untuk dapat berinovasi dalam pengelolaan sampah.

“Harusnya DLH itu berinovasi soal mengelola sampah,” imbuhnya.

Disinggung soal Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL)
yang merupakan program inovasi DLH, Gatot mengaku belum mendapatkan informasi perkembangan selanjutnya soal itu.

“Belum ada informasi perkembangan selanjutnya, mudah-mudahan cepat terlaksna, Jadi dengan menggunakan teknologi, ya mendorong LH untuk lebih berinovasi dalam pengelolaan persampahan,” tandasnya.

Terpisah, Bambang Wahyudi warga RT.01/03 Kelurahan Kedaung Baru Kecamatan Neglasari Kota Tangerang mengatakan, Permasalahan gunung sampah di TPA Rawa Kucing, sudah sangat lama menjadi permasalahan general, karena pengelolaannya tidak optimal dan saat ini menjadi overload.

Meski adanya wacana inovasi pengelolaan sampah seperti program investasi PT Oligo dalam Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) dengan anggaran sebesar Rp 2,585 triliun.

“Jujur ya, warga Neglasari, awal nya sangat senang atas wacana akan dibangun sistem pengolahan sampah menghasilkan Refused Derived Fuel (RDF) dan fasilitas pengolahan biologis Anaerobic Digester (AD) dilengkapi dengan unit pembangkit panas dan listrik dari biogas,”ungkap Bambang dikutip dari laman buletintangerang.com
Senin (22/05)

Selanjutnya sambung Bambang, di TPA akan dibangun daya listrik sampai dengan 13,5 MW. Kemudian RDF yang dihasilkan di TPA Rawa Kucing digunakan sebagai bahan bakar dari pembangkit listrik thermal yang berada di lokasi kedua, yaitu Jatiuwung yang dapat membangkitkan tenaga listrik juga.

“Semua program itu, entah kapan kiranya dapat dibuktikan oleh pemerintah daerah dan pusat, mengingat ketinggian Gunungan sampah sudah mencapai perkiraan 20 meter dan menimbullan cairan bau busuk yang mengganggu kesehatan warga di lingkungaj Neglasari,” tandas nya. (Red)

TPA Rawa Kucing Hampir Penuh, DLH Kota Tangerang Akui Hanya 20 Persen Lahan Tersisahttp://www.tppinews.com/wp-content/uploads/2023/05/3e478290ff7ee8ea75926c80854ccf0e64d2c6cca7b43e042a94118bc9aa4a0e.0.jpghttp://www.tppinews.com/wp-content/uploads/2023/05/3e478290ff7ee8ea75926c80854ccf0e64d2c6cca7b43e042a94118bc9aa4a0e.0-200x200.jpg admin SEPUTAR TANGERANG
tppinews.com, Tangerang - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang menyebut kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) Rawa Kucing sudah hampir penuh. Mereka menyatakan TPA Rawa Kucing saat ini sudah terisi 80 persen dari kapasitas lahan seluas 35,8 Hektar. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang, Tihar Sopian mengatakan, lahan tersebut sudah hampir...
<!-- wp:image {"id":16036,"sizeSlug":"large"} --> <figure class="wp-block-image size-large"><img src="https://www.tppinews.com/wp-content/uploads/2023/05/2f250d58c642b16d80c42201d01c9ae4b426634b191a7f9d9ddb6597110e8c24.0.jpg" alt="" class="wp-image-16036"/></figure> <!-- /wp:image --> <!-- wp:paragraph --> <p>tppinews.com, Tangerang - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang menyebut kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) Rawa Kucing sudah hampir penuh. Mereka menyatakan TPA Rawa Kucing saat ini sudah terisi 80 persen dari kapasitas lahan seluas 35,8 Hektar.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang, Tihar Sopian mengatakan, lahan tersebut sudah hampir penuh. Pihaknya setiap hari melayani pengangkutan sampah ke TPA sebanyak 1.600 ton sampah.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>“Harusnya 1.600 ton per hari dipilah masyarakat bisa 500 ton atau 200 ton yang masuk ke TPA, itu dipilah dari sumber industri maupun tempat tinggal,” kata Tihar Senin (22/05).</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>"Jadi residunya aja yang di bawa ke TPA," imbuhnya.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>Tihar juga mengaku telah menyiapkan 100 armada truk pengangkut sampah setiap harinya.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>"Kita tata per zona-zonanya dengan armada pengangkut yang setiap hari beroprasi," katanya.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>Terpisah, Ketua DPRD Kota Tangerang saat diminta tanggapannya soal hal ini mengatakan akan mendorong Pemkot Tangerang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk melakukan program antisipasi. Sehingga TPA tersebut tidak terjadi kelebihan kapasitas.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>“Pemerintah Kota Tangerang segera melakukan antisipasi, segera membuat program antisipasi jangan sampai overload. Karena pengelolaan persampahan memang jadi sebuah kebutuhan dan tantangan perkotaan,” ujar Gatot saat dimintai keterangan di Gedung DPRD Kota Tangerang. Senin (22/05).</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>Gatot mengatakan pengelolaan sampah menjadi tantangan di perkotaan. Seperti Kota Tangerang Selatan yang harus mengirimkan sampah ke wilayah lain, keterbatasan lahan dan kebutuhan lahan yang cukup terbatas.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>“Tangsel aja mengekspor ke wilayah lain, memang itu menjadi tantangan. Karena keterbatasan dan kebutuhan lahan yang terbatas,” kata Gatot yang juga Ketua DPC PDIP Kota Tangerang.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>Ia mendorong kepada Dinas Lingkungan Hidup untuk dapat berinovasi dalam pengelolaan sampah.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>"Harusnya DLH itu berinovasi soal mengelola sampah," imbuhnya.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>Disinggung soal Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL)<br>yang merupakan program inovasi DLH, Gatot mengaku belum mendapatkan informasi perkembangan selanjutnya soal itu.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>"Belum ada informasi perkembangan selanjutnya, mudah-mudahan cepat terlaksna, Jadi dengan menggunakan teknologi, ya mendorong LH untuk lebih berinovasi dalam pengelolaan persampahan,” tandasnya.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>Terpisah, Bambang Wahyudi warga RT.01/03 Kelurahan Kedaung Baru Kecamatan Neglasari Kota Tangerang mengatakan, Permasalahan gunung sampah di TPA Rawa Kucing, sudah sangat lama menjadi permasalahan general, karena pengelolaannya tidak optimal dan saat ini menjadi overload.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>Meski adanya wacana inovasi pengelolaan sampah seperti program investasi PT Oligo dalam Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) dengan anggaran sebesar Rp 2,585 triliun.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>“Jujur ya, warga Neglasari, awal nya sangat senang atas wacana akan dibangun sistem pengolahan sampah menghasilkan Refused Derived Fuel (RDF) dan fasilitas pengolahan biologis Anaerobic Digester (AD) dilengkapi dengan unit pembangkit panas dan listrik dari biogas,"ungkap Bambang dikutip dari laman buletintangerang.com<br>Senin (22/05)</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>Selanjutnya sambung Bambang, di TPA akan dibangun daya listrik sampai dengan 13,5 MW. Kemudian RDF yang dihasilkan di TPA Rawa Kucing digunakan sebagai bahan bakar dari pembangkit listrik thermal yang berada di lokasi kedua, yaitu Jatiuwung yang dapat membangkitkan tenaga listrik juga.</p> <!-- /wp:paragraph --> <!-- wp:paragraph --> <p>"Semua program itu, entah kapan kiranya dapat dibuktikan oleh pemerintah daerah dan pusat, mengingat ketinggian Gunungan sampah sudah mencapai perkiraan 20 meter dan menimbullan cairan bau busuk yang mengganggu kesehatan warga di lingkungaj Neglasari,” tandas nya. (Red)</p> <!-- /wp:paragraph -->